Puasa Ular Dan Puasa Ulat

Puasa Ular Dan Puasa Ulat

Puasa, atau upa wasa, berasal dari Bahasa Jawa Kuno Sanskerta yang padanan dalam bahasa kekinian adalah mengecilkan kehendak. Dalam tradisi Sunda, upa wasa atau ngawening pelaksanaannya selama 40 hari.

Setelah selesai upa wasa, seseorang harus melakukan Lebaran atau padanan katanya adalah menyayangi. Tahapan Lebaran ini mulai dengna membersihkan rumah, membersihkan desa, membersihkan mata air, dan melakukan mandi besar.

Tahap selanjutnya adalah meminta maaf.

  1. Neda hampura atau mohon ampunan kepada Hyang Maha Kuasa.
  2. Neda hampura kepada leluhur atau orang tua, dalam hal ini ibu dan bapak, dan seterusnya.
  3. Meminta maaf kepada semua sesama manusia, sanak saudara, sahabat, teman, kenalan.
  4. Meminta maaf kepada semua makhluk dan segala yang ada di sekitar kita. Baik yang terlihat, maupun yang tidak terlihat.

Tentu perlu juga meminta maaf kepada raga sukma sarira atau tubuh diri kita sendiri.

Jika kita membuat analogi untuk membandingkan puasa secara metafora, maka ada sebuah perbandingan puasa yang baik untuk kita mempelajarinya.

Puasa Ular

Agar ular mampu menjaga kelangsungan hidupnya, salah satu cara yang harus berlaku adalah ia harus mengganti kulitnya secara berkala. Dan untuk mengganti kulit tersebut sang ular tidak serta merta bisa langsung menanggalkan kulit lamanya begitu saja.

Tetapi ia harus BERPUASA dalam kurun waktu tertentu terlebih dahulu. Setelah PUASANYA SELESAI maka barulah kulit luarnya terlepas dan muncul kulit yang baru. Namun meskipun sang ular sering BERPUASA dan mengganti kulit, anehnya ia tetap seperti ular semula. Tidak ada perubahan, baik tabiat dan kebiasaannya.

Sebuah pandangan dari puasanya ular :

  1. WAJAH ular sebelum dan sesudah puasa tetap SAMA.
  2. NAMA ular sebelum dan sesudah puasa tetap SAMA yakni ULAR.
  3. MAKANAN ular sebelum dan sesudah puasa tetap SAMA.
  4. CARA BERGERAK sebelum dan sesudah puasa tetap SAMA.
  5. PERILAKU dan WATAK sebelum dan sesudah puasa tetap SAMA MERACUNI.

Puasa Ulat

Ulat termasuk hewan yang rakus. Karena hampir sepanjang hidup menghabiskan waktunya untuk makan. Tapi begitu sudah bosan menjadi ulat, ia akan melakukan perubahan dengan cara BERPUASA untuk menjadi kupu-kupu.

Dan PUASA yang ia kerjakan benar-benar sangat berkualitas. Mulai dari mengasingkan diri, menjauhkan diri dari tempat makanan, membungkus badannya dengan kepompong. Sehingga ia benar-bener BERPUASA bukan sekedar menahan lapar dan haus saja. Tetapi mulut, mata dan anggota tubuh lainnya juga BERPUASA dan berusaha menghindari segala bentuk hawa nafsu yang dapat mengganggu PUASANYA.

Dan setelah berminggu-minggu BERPUASA, maka keluarlah dari kepompong seekor makhluk baru yang sangat indah bernama KUPU-KUPU. Kini sang ulat setelah berpuasa dan mengganti kulitnya, ia juga mengalami perubahan pada tabiat dan kebiasaannya.

Sebuah pandangan dari puasanya ulat :

  1. WAJAH ulat sesudah puasa berubah INDAH MEMPESONA.
  2. NAMA ulat sesudah puasa berubah menjadi KUPU-KUPU.
  3. MAKANAN ulat sesudah puasa berubah MENGISAP MADU.
  4. CARA BERGERAK ketika masih jadi ulat menjalar, setelah puasa berubah TERBANG di awang-awang.
  5. TABIAT dan SIFAT berubah total. Ketika masih jadi ulat menjadi perusak alam pemakan daun. Begitu menjadi kupu-kupu menghidupkan dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuhan dengan cara membantu PENYERBUKAN BUNGA.

KESIMPULAN

Demikianlah sesungguhnya sejatinya dari upa wasa atau puasa. Kita harus bisa berubah menjadi lebih baik. Bukan tetap pada watak dan perilaku lama yang sama. Sebab puasa bukanlah hanya sekedar menahan lapar dan haus saja. Namun kita juga harus menahan dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik. Sehingga ke depan kita bisa menjadi lebih baik lagi dari pada hari ini.

Puasa adalah sarana pendidikan untuk melatih diri agar kita bisa bersabar dan sanggup meninggalkan hal-hal yang mengaburkan jati diri.

Dengan puasa menjadikan pribadi lebih bisa dewasa. Lebih semangat melakukan laku guna. Dan sanggup mengendalikan diri dari segala bentuk kepalsuan dan kemunafikan yang menjauhkan dari sehat dan bahagia.

Semoga dengan puasa ini kita semua mampu menjalankan puasa serupa seekor ulat, sehingga ketika usai ada perubahan yang lebih baik dalam diri kita.

Ke Beranda.